obat pembesar penis

obat pembesar penis

obat peninggi badan

obat peninggi badan

obat pembesar penis

produk obat pembesar penis no.1 di dunia

Dulu, aku memperoleh cerita dari cak Nun tentang seorang pedagang Jagung

Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.

“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”

“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”

“Berarti saya hutang?”

“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.

Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!

Saat ini saya bukan pedagang.. tapi kemurah-hatian sang penjual jagung ini menjadi teladan bagi saya utk rajin memberi dan bersedekah.. cerita ini bener2 menginspirasi aku.

Dalam pengajian bersama Guru Danau di kampung saya dulu, Guru Danau seringkali mewasiatkan pada para murid, jemaah pengajian beliau, utk jadi orang yg pemurah, jangan jadi orang yg pelit.. berusahalah jadi orang yg dermawan.
Beliau jg menceritakan bahwa beliau tidak pernah menawar jika membeli sesuatu.
Bahkan kadang beliau membayar dengan uang yg lebih besar dari pada harga barang. Kelebihan pembayaran dianggap sebagai sedekah/hadiah.

Teladan-teladan ini yg mendorong saya, mengingatkan saya selalu utk jangan perhitungan, jangan pelit, berusaha terus utk jadi pemurah.

Kita beli di carefour aja ga pake nawar.. masa beli sayur sama pedagang kecil, beli baju sama kaki lima, nawarnya minta ampun.

Memang sih, kadang juga yg jualan jg ga bener masang harga.. bisa berkali-kali lipat dari harga standard.. semoga mereka jadi sadar, dan memberi harga yg wajar. Ga usah ambil untung berlipat ganda, sewajarnya saja, yg penting keberkahan dalam bisnis tsb. 
Terhadap pedagang yg masang harga tinggi gini, saya biasanya nanya dulu: “harga pasnya berapa bang?” (maksud saya, harga wajarnya).. jika pedagang memberi saya harga yg menurut saya masih kemahalan, maka saya ga jadi beli.. biar jadi pelajaran juga utk si pedagang utk memberi harga yg wajar.

Semoga kita semua bisa mencontoh Rasulullah saw.
Beliau klo berdagang sangat jujur, beliau kasih tahu, ini barang dibeli dg harga sekian di kota ini, saya jual sekian dg ambil untung segini… jadi yg beli bisa mengukur sendiri, merasa senang dan puas dg kejujuran beliau..
Jika pembeli senang dan puas, dan percaya dg kejujuran kita..maka mereka pasti beli lagi, dan bahkan mungkin menceritakan ke orang lain… dengan demikian, tentu saja bisnis kita akan bertambah dan meluas customernya.

Balik lagi ke judul postingan ini…

Hari ini, jumat 12 feb 2010, aku browsing-browsing dan mampir ke http://padhangmbulan.com, website dari Cak Nun (Emah Ainun Nadjib) – Kyiai Kanjeng.

Di padhangmbulan.com, aku menemukan sebuah judul tulisan yg sangat menarik:

Bakso Khalifatullah

Langsung aja aku klik dan aku baca..dan … viola.. cak Nun bertutur tentang seorang tukang bakso yg luar biasa.

Posted by Emha Ainun Nadjib, 9 February 2010 in Kolom Emha

Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.

“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”

“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.

“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.

Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.

Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.

Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.

Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.

Membaca cerita ini, aku jadi ingat cerita dari salah seorang sahabat Rasulullah saw: Abdurrahman bin Auf ra.. beliau juga melakukan hal yg sama seperti pak Batul ini.
Bahkan Abdurrahman bin Auf ra membagi tiga pendapatan beliau: sepertiga utk keluarga, sepertiga utk melanjutkan bisnisnya, sepertiga lagi utk sedekah di jalan Allah.
Luar Biasa…

Klo kita orang kaya, penghasilannya jutaan, palagi sudah konsisten sebulan dapat sekian.. mungkin melakukan hal yg pak Batul lakukan ini adalah hal yg gampang..
penghasilan 9 juta, pengeluaran utk kebutuhan anak-bini cukup 3 juta misalnya, maka 3 juta bisa utk sedekah, 3 juta lagi utk investasi/pribadi/lain2…
Meskipun demikian, meskipun punya penghasilan besar.. pernahkah kita terpikir utk melakukan hal ini?
Beranikah kita utk bersedekah sampai 33.33% dari penghasilan kita?
Percayakah kita pada ke-maha dermawan-an Allah? Allah yg Maha Pemurah…

ini Pak Batul.. tukang bakso..
penghasilannya jg belum tentu gede..
bahkan dia belum tau sebulan bakal dapat berapa..
apakah bakal cukup buat hidup atau ga?
apakah besok masih bisa atau ga?
apakah besok ada yg beli atau ga?

Meski dihadapkan dg sejuta ketidakpastian tersebut, pak Batul ini tetap konsisten membagi tiga uang yg diterima.. dan perhatikan ini: “Pembagian tiga ini dilakukan di awal, saat uang terima”..

Berapa banyak diantara kita yg bersedekah diakhir.. setelah kita keluarkan utk belanja, foya-foya.. sisanya.. sekali lagi..sisanya.. baru disisihkan untuk sedekah?

duuuuuhhhh…

Subhanallah, salut buat bapak tukang bakso.. beliau rasa percaya sama Allah-nya luar biasa.. beliau yakin bahwa besok bakal tetap dikasih rizki sama Allah. bahwa Allah akan memudahkan dan melancarkan usahanya sehingga berani bersedekah di depan (bukan dari uang sisa).

Semoga kita diberi keyakinan, ilmu, dan kekuatan utk meneladani bapak tukang bakso ini, dan dikaruniai segalanya agar mampu melakukannya dalam kehidupan kita dg ikhlas dan istiqomah.

(minimal niat dolo dehhhhh :D )…

Tulisan lengkap cak Nun bisa anda baca di sini: :tkp Bakso Khalifatullah

(ada juga cerita tukang cendol, cerita pak Batul di atas, dan pendapat dari cak Nun.. monggo disamperin).

Bagaimana menurut anda?

Jika anda senang dg tulisan ini, tolong forward link ke tulisan ini ke teman2 anda ya.. atau anda taruh comment di facebook/twitter anda (anda bisa gunakan feature “Share highlight page” di bawah tulisan ini).
semoga bermanfaat bagi anda dan teman-teman anda juga.

Kami tunggu comment, pendapat, sumbang saran, cerita feedback dari teman juragan semua :D

Incoming search terms for the article:

Related Posts:

Tags: ,

Leave a Reply


*

[+] kaskus emoticons nartzco