obat pembesar penis

obat pembesar penis

obat peninggi badan

obat peninggi badan

obat pembesar penis

produk obat pembesar penis no.1 di dunia

Islam itu mudah, islam itu indah, penuh keberkahan.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya:
http://wahinijua.com/2009/12/13/ayo-mengajak-pada-kebaikan-kenapa/

Jika teman-teman bertanya: kenapa harus mengajak berbuat kebaikan?
Kenapa harus menyampaikan hadits Nabi saw?

Atau jika teman-teman memiliki pikiran:
Saya belum mengamalkan, saya ga berani mengajak orang lain…
Saya belum istiqamah dalam mengamalkan, masih angin-anginan, belum konsisten, saya ga berani mengajak orang lain…
Saya bukan muslim yg baik, saya ga pantas mengajak orang lain mengamalkan sesuatu.
Saya bukan ustadz, ga hapal hadits, bukan hak saya utk mengajak berbuat kebaikan.
Ilmu saya masih sedikit, saya ga pantas mengajak berbuat kebaikan.
dll, dll, yg menunda anda, yang menyebabkan anda tidak mengajak utk berbuat kebaikan..

Maka saya sarankan teman-teman utk membaca tulisan di artikel sebelumnya
(http://wahinijua.com/2009/12/13/ayo-mengajak-pada-kebaikan-kenapa/)

Di tulisan ini, akan saya lanjutkan lagi, manfaat dan keberkahan bagi kita, jika kita mau mengajak orang lain utk berbuat kebaikan.

Habib Munzir al Musawwa mengajarkan hadits berikut ini

Barangsiapa yg membuat/mengadakan (membuat hal baru) di dalam islam suatu bimbingan/ajaran yg baik, lalu diamalkan oleh orang orang sesudahnya, maka dituliskan baginya pahalanya sebagaimana yg mengamalkannya, dan tiadalah pahalanya dikurangi sedikitpun,

dan barangsiapa yg membuat buat di dalam islam, suatu bimbingan/ajaran yg buruk, dan lalu diamalkan oleh orang orang sesudahnya, maka dituliskan baginya dosanya sebagaimana yg mengamalkannya, dan tiadalah dosanya dikurangi sedikitpun?.
(Shahih Muslim no.1017)

Kemudian ada pertanyaan:
“dari kalangan wahabi/salafy , kata-kata “mengada-adakan hal baik yang baru” adalah salah, karena terjemahannya dari “sanna sunnatan hasanatan
Padahal terjemahannya seharusnya menurut mereka adalah “Barang siapa meletakkan sunnah hasanah, maka baginya pahala dan pahala bagi yang mengikutinya”.
Bagaimana pendapat habib mengenai hal ini, apakah mungkin terjadi perbedaan penafsiran.”

Maka saya copas jawaban habibana Munzir al Musawwa seperti berikut ini:
“mengenai tafsiran mereka mengenai hadits itu, itu hanya dangkalnya pemahaman mereka terhadap bahasa arab dan ilmu hadits.

sebagaimana seseorang memahami ilmu hadits mestilah bukan dg tafsiran sempit yg kita miliki, tapi lihat asbab wurudnya, telah dijelaskan oleh Al Imam Al Muhaddits Al hafidh Imam Nawawi rahimahullah bahwa: makna hadits itu adalah dalil dibolehkannya membuat hal baru berupa kebaikan (tak bertentangan dg syariah). dan hadits ini merupakan dalil pengecualian atas hadits “… kullu bid’ah dhalalah wakullu dhalaalah finnar..” (semua bid’ah itu sesat dan semua yg sesat itu di neraka). sungguh yg dimaksud adalah Bid’ah yg buruk, bukan bid’;ah yg baik” (Syarh Nawawi ala shahih Muslim juz 7 hal 104).

dan anda boleh buka kamus mana saja, lihat makna kata : “sanna” yaitu membuat suatu adat, ajaran, kebiasaan.”

Selain itu, salah satu hikmah yg bisa kita ambil dari hadits ini adalah:

Jika kita mengajarkan atau menyampaikan kebaikan (dari Al Quran, hadits Nabi saw, ilmu yg kita terima dari para Ulama, dari guru-guru kita, dll) kepada orang lain..
kemudian orang tsb mengamalkan jg… maka, dituliskan bagi kita pahala sebagaimana pahala org yg mengamalkannya.

Contohnya bisa berupa mengajak mengajak bersedekah, mengajak shalat dhuha, mengajak shalat berjamaah di mesjid..

Atau bisa juga dengan teladan, misal kita rajin berjemaah ke mesjid, kemudian ada teman atau saudara yg melihat hal ini, kemudian terinspirasi dan mulai rajin berjamaah juga, maka insya Allah kita juga memperoleh pahala dari teman/saudara tsb.. tanpa mengurangi pahala si teman/saudara sedikitpun.

jika kita mengajak 10 orang utk bersedekah 100rb, kemudian semuanya bersedekah 100rb, maka dituliskan bagi kita pahala sebagaimana pahala sedekah 10 orang x 100rb = pahala bersedekah 1 juta

Jika kita rajin membaca shalawat, dan mengajak orang lain membaca shalawat, maka kita insya Allah akan memperoleh pahala, keberkahan, dan Ridho Allah DUA KALI LIPAT.. dari shalawat yg kita baca sendiri.. PLUS dari shalawat yg dibaca orang lain tsb.
Jika yg ikut membaca shalawat 3 org.. maka kita memperoleh 3x-nya.. dst.

Luar biasa.

lalu apakah yg menghalangi kita utk mengajak pada kebaikan?

Mari kita baca lagi hadits dari Imam Muslim ini:

Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Jarir bin ‘Abdillah ia berkata: “Pernah kami berada di sisi Rasulullah pada awal siang, ia berkata: “Maka datanglah suatu kaum yang tak beralas kaki, tidak mengenakan pakaian dan hanya mengenakan mantel, terhunus pedangnya, mayoritas mereka dari Bani Mudhor bahkan keseluruhannya. Memerahlah wajah Rasulullah ketika melihat keadaan mereka yang sangat mengenaskan itu akibat kemiskinan.
Lalu beliau masuk, kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqomah, lalu shalat kemudian berkhuthbah (dengan khuthbatul hajat).
Setelah itu seseorang bersedekah dengan dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, gandumnya dan kurmanya. (Sampai ia berkata): “Walaupun dengan separuh buah kurma.”
Ia berkata: “Kemudian datang seorang lelaki dari Anshor dengan bungkusan, hingga tangannya hampir tidak mampu menanggungnya.” Ia berkata: “Kemudian manusia mengikutinya, hingga aku melihat dua tumpukan makanan dan pakaian dan aku perhatikan wajah Rasulullah berseri-seri seakan-akan sepotong emas yang berkilau.
Bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa memberi contoh yang baik dalam Islam, baginya pahala dan pahala orang yang beramal dengannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun

Dari sini, dapat kita ambil hikmah bahwa:
apabila seorang muslim menghidupkan suatu sunnah dan diikuti oleh orang lain, maka baginya pahala amalan tersebut dan ditambahlagi..baginya pahala orang yang mengikutinya. Jadi dia memperoleh pahalah, keberkahan, ridho Allah berkali-kali lipat.

Dan tidak diragukan lagi, bahwa ini merupakan keutamaan yang besar

Dalam forum tanya jawab di MajelisRasulullah.org, seorang sahabat bertanya:
HAW: 2) apakah baik mengajak teman berbuat kebaikan tetapi ana masih belum istiqomah menjalankan kebaikan itu,ana takut jadi beban buat ana juga..
3) setiap ilmu yang di dapat yang tidak diamalkan akan menjadi beban buat kita di akhirat,bagaimana bib menyikapi ini?ana takut jadinya…

Kemudian Habib Munzir menjawab dalam forum tsb:
2. mengajak orang berbuat kemuliaan walau kita belum mengamalkannya adalah salah satu bentuk pengamalannya,
misalnya kita mengajarkan kemuliaan shalat witir, menyampaikan haditsnya, namun kita belum mengamalkannya, maka kita mendapat pahala dg mengajarkannya, dan mendapat dosa jika menyembunyikan ilmu.

mengenai firman Allah swt : “Sangat besar kemurkaan Allah ketika kalian mengatakan/mengajak pada hal hal yg kalian tidak perbuat”.

ayat itu turun untuk para munafik yg ketika diperintahkan jihad oleh Allah swt mereka tidak mau ikut dg Rasul saw, namun berpura pura baik dg memerintahkan orang lain berjihad.

3. saudaraku, pelajari semua ilmu, amalkan yg mampu kita amalkan, dan sisanya Insya Allah akan datang waktunya kita mampu mengamalkannya, jika tidak maka kita dimaafkan Allah swt karena sudah berbuat semampunya.
http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=34&func=view&id=25033&catid=9

keren kan… mengajak teman berbuat kemuliaan itu = salat satu bentuk pengamalannya.

 

Diujung tulisan ini, izinkan saya utk mengajak teman-temanm semua utk memantabkan hati, utk semakin rajin dan bersemangat dalam mengamalkan amalan-amalan wajib..
dan semakin giat dan menambah lagi amalan amalan sunnah.

saya mengajak teman-teman semua utk terus melakukan shalat wajib lima waktu dan berusaha utk berjemaah

Saya mengajak teman-teman semua utk memperbanyak membaca shalawat, ayo kita hiasi langkah kita ke mesjid dg membaca shalawat.
Ayo kita hiasi langkah kita sepulang dari mesjid dg banyak membaca shalawat.

Daripada ngalamun, nyanyi lagu pop, saat kita berangkat ke kantor, atau pulang dari kantor, ayo membaca shalawat sepanjang perjalanan.

Sabda Nabi saw:
“barangsiapa yang membaca shalawat atasku satu shalawat maka Allah akan menurunkan sepuluh rahmat kepadanya dan menghapus sepuluh kesalahannya” (HR. Nasai).

Saat sedang menunggu, ada waktu lapang, ada waktu senggang.. ayo membaca shalawat.

Ayo kita latih diri kita.. guru-guru, ulama-ulama menganjurkan agar kita melatih diri membaca shalawat minimal 300x setiap hari.

Habib Munzir bershalawat minimal 5000x setiap hari, luar biasa….

Kemudian, di waktu pagi dan sore hari, sebelum atau sesudah shalat subuh, sebelum atau sesudah shalat maghrib, ayo kita budayakan utk membaca Wirdullathif.

Selain itu, tentu saja.. ayo kita budayakan utk membaca Al Qur-an, luangkan waktu barang lima menit sehari utk membaca Al Qur-an.

Wallahu a’lam

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh

aan

Incoming search terms for the article:

Related Posts:

Tags: , , ,

4 Comments on Dahsyatnya mengajak berbuat kebaikan

  1. Frisma says:

    spertinya anda blum blum mendalami ayat di Al-Qur’an dalam surah An-Nisa ayat 59

    [Reply]

    aan Reply:

    @Frisma,
    An-Nisa
    59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

    apa yg ditulis di atas itu kan ada Haditsnya toh.. hadits Sahih pula. jelas2 plek sudah ditulis di atas.. sumbernya jg jelas..sanadnya jelas..
    bahkan terjemahan artinya diperjelas pula..

    ini saya yg ga nyambung dg comment anda kali ya?

    [Reply]

    Habibie Ed Dien Reply:

    @aan,
    Assalamu’alaikum.
    maksud dari saudara Frisma adalah kita harus mempelajari Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum yang lain.
    Al-Quran merupakan sumber paling kuat dan valid dalam Islam.
    Jika di Al-Quran ada, kenapa harus mencari dalil atau dasar lain?

    Al-Qur’an merupakan firman Allah, jadi carilah di sana dahulu.
    Jika Al-Qur’an menjelaskan sesuatu yang bertentangan dengan Hadits, berarti Hadits tersebut yang perlu dipertanyakan?
    Bukan Al-Qur’an yang disalahkan.

    Sekian terima kasih. semoga bermanfaat.
    Wassalamu’alaikum. :)

    [Reply]

    aan Reply:

    @Habibie Ed Dien,
    oh begitu

    masalahnya.. yg bertentangan antara Hadits vs Al Qur’an dalam topik yg dibahas artikel itu yg mana ya??
    apakah ada di artikel di atas yg menafikan Al Qur’an??
    menurut saya, justru hadits di atas semakin membuat kita bersemangat mengamalkan Al Qur’an. malah sangat selaras dan semaksud setujuan.

    maafkan saya klo saya terlupa menulis ayat Al Qur’annya di artikel ini..

    contoh Nash dalam Al Qur’an berkenaan dg Topik (Mengajak berbuat kebaikan) saya pikir sudah jelas, di SD jg sering diajarkan kan?

    contoh:

    “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah dan beramal shalih dan berkata, “Bahwasanya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).” (Q.s. Fushilat : 33).

    Dan suruhlah keluargamu (umatmu) dengan shalat dan bersabarlah atasnya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberimu rezeki. Dan akibat (yang baik) itu bagi orang yang bertakwa.” (Q.s. Thaha: 132).

    “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat baik, dan cegahlah dari kemungkaran dan bersabarlah atas apa-apa yang menimpamu. Sesungguhnya hal itu adalah urusan yang diutamakan.” (Q.s. Luqman : 17).

    dan yg paling terkenal (paling sering disampaikan):
    “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang mengajak (manusia) kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. Ali Imran: 104).

    [Reply]

Leave a Reply


*

[+] kaskus emoticons nartzco