Apa kata para Sahabat & para Ulama tentang Maulid Nabi Muhammad saw?

Hari ini aku menerima email dari salah seorang peserta milist, berisi pendapat para sahabat dan ulama tentang pelaksanaan maulid. Sayang di email ini tidak disebutkan darimana artikel itu diambil..

Trus aku cari-cari diinternet, alhamdulillah aku temukan, lengkapnya artikel tsb aku copy paste di bawah, semoga bermanfaat bagi diriku sendiri dan temans semua.

Dan saat tulisan ini dibuat, alhamdulillah sekarang adalah tgl 11 rabiul awal dan berarti besok tgl 12 rabiul awal adalah hari lahir Nabi Muhammad saw.

Insya Allah besok akan ada acara maulid di Monas yg diselenggarakan oleh Majelis Rasulullah (pimpinan Habib Munzir al Musawwa), jam 7.30 – 9.30 pagi. Semoga besok aku bisa hadir di acara ini.

———————————-

“Dari kitab An Nikmatul Kubro oleh Al Imam ‘Alim Al ‘Alamah Shabuddin Ahmad Ibnu Hajar al Haitami Asy Syafi’ie”

BismillahirRohmanirRohim.

Apa yang dikatakan Sahabat-sahabat ra dan tabi’in-tabi’in tentang amalan-amalan Maulid Nabi. Untuk itu kita lihat di dalam kitab An Nikmatul Kubro Alal’Alami yang ditulis oleh Al Imam ‘Alim Al ‘Alamah Shabuddin Ahmad ibnu Hajar AlHaitami Asy Syafie pada muka surat ketujuh :

Telah berkata Sayidina Abu Bakar As Siddiq ra : "Barangsiapa membelanjakan satu dirham atas membaca Maulidin Nabi SAW, maka dia adalah sahabatku di dalam Syurga."

Saiyidina Umar r.a. pula berkata, "Barangsiapa membesar-besarkan Maulidin Nabi SAW maka sesungguhnya dia menghidupkan Islam."

Saiyidina Utsman r.a. menyebut, "Barangsiapa membelanjakan satu dirham ke atas Maulidin Nabi maka seolah-olahnya dia telah syahid di dalam peperangan Badar dan Hunain."

Dan Saiyidina Ali karamawlahu wajhah. berkata pula, "Barangsiapa membesar-besarkan Maulid Nabi SAW, maka sebagai sebab bagi bacaannya itu, dia tidak akan keluar dari dunia ini melainkan dengan iman dan masuk ke syurga tanpa hisab (perhitungan).

Imam Hassan Al Basri r.a. berkata, "Jikalau diriku memiliki  seumpama gunung Uhud dari emas, maka niscaya aku akan membelanjakan nya ke atas bacaan Maulid Nabi SAW."

Imam Junaid Al Baghdadi qs menyebut pula, "Barangsiapa hadir di dalam majlis Maulidin Nabi SAW dan membesar-besarkan nilainya, maka sesungguhnya ia telah berjaya dengan iman."

Berkata pula Ma’aruf Al Khurkhi qs, "Barangsiapa mendatangkan makanan bagi tujuan bacaan maulidin Nabi SAW dan mengumpulkan saudara-saudara dan menghidupkan pelita dan memakai pakaian baru dan berwangi-wangian sebagai membesarkan bagi Maulidin Nabi SAW itu, Allah SWT membangkitkannya di hari kiamat, di firqah yang pertama bersama Nabi-Nabi. Dan tempatnya adalah di tempat yang tertinggi."

Dan telah berkata Imam Fakhruddin Ar Razi, "Barangsiapa yang membaca Maulid Nabi SAW  kemudian membelanjakan atas garam, beras atau sesuatu yang lain untuk memeriahkan Mawlid Nabi saw, maka akan tampak padanya berkat daripada benda itu." Selanjutnya, siapapun yang memakan makanan tadi, maka Allah SWT menyempurnakan dan menghilangkan kegelisahan darinya. Dan jika dibacakan Maulidin Nabi SAW ke atas air minum, maka sesiapa yang minum air tersebut telah masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, dan telah keluar daripadanya seribu kesusahan dan penyakit. Dan tidak mati hati itu ketika hari matinya hati-hati."(  Fakhruddin Ar Razi adalah pengarang besar Tafsir Ar Razi ).

Al Imam Asy-Syafie Rahimahullahu Taala menyatakan, "Barangsiapa berkumpul karena majlis Maulidin Nabi SAW dengan mendatangkan makanan dan menyediakan tempat serta membuatnya menjadi kebaikan, maka sebagai sebab bacaan itu, Allah SWT membangkitkannya pada hari kiamat kelak berserta para siddiqin dan syuhada, para solehin dan adalah dia di dalam syurga An Na’im"

As Sariyus Saqatti pula berkata, "Barangsiapa yang menyediakan tempat dibacakan Maulidin Nabi SAW maka sesungguhnya dia berkehendak "raudhah" (taman daripada taman-taman syurga), kerana sesungguhnya, tidaklah dia berkehendakkan tempat itu melainkan cintanya kepada Nabi SAW."  Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersama-sama denganku di dalam syurga."

Al Fadhil Jalaluddin Abdur Rahman Abu Bakar As Sayuti berkata, "Dan akan bercahaya-cahaya kubur dari siapapun yang membaca Maulid Nabi SAW."

Kitab Al Wasail Fis Syarhi Syamail juga ada menyebut, "Tidaklah satu tempat dibacakan Maulid Nabi SAW melainkan dipenuhi oleh para malaikat di tempat itu dan malaikat-malaikat telah bersalawat atas orang-orang yang ada di tempat tersebut. Allah SWT juga telah memberikan rahmat dan keredhaan-Nya dan yang memberikan cahaya itu ialah malaikat Jibrail,Mikail, Israfil dan Izrail.  Maka sesungguhnya mereka itulah yang menselawatkan ke atas orang-orang yang membacakan Maulid Nabi SAW itu."

Imam Suyuti berkata: "Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad SAW yang mulia".

Kata Imam As Sayuti lagi, "Tidak adalah daripada muslim itu yang membaca Maulidin Nabi SAW itu di dalam rumahnya melainkan Allah SWT akan mengangkat wabah kemarau, kebakaran, karam, kebinasaan, kecelakaan, kebencian, hasad dan pendengaran yang jahat dan pencuri daripada ahli-ahli rumah itu. Maka apabila mati, Allah SWT memudahkan ke atasnya menjawab segala pertanyaan  dari malaikat Munkar dan Nakir.
Dan mereka akan  ditempatkan di dalam tempat para siddiqin dan di sisi raja-raja yang berkuasa. Maka barangsiapa hendak membesarkan Maulidin Nabi SAW cukup memadai dengan kadar kemuliaan ini. Dan barangsiapa tidak membesarkan Maulid Nabi SAW, jikalau engkau telah memenuhi baginya dunia ini bagi memujinya, maka hatinya tidak digerakkan untuk mencintai Nabi SAW."

Berkata Ibnu Hajar al-Haithami "Bid’ah yang baik itu sunnah untuk dilakukan, begitu juga memperingati hari Maulid Nabi  sallallahu alayhi wasalam adalah baik untuk  dilakukan".

Pendapat Abu Shamah (guru Imam Nawawi) : "Termasuk hal baru yang baik dilakukan pada zaman ini adalah apa yang dilakukan tiap tahun bertepatan pada hari kelahiran Rasulullah saw ( Mawlid Nabi saw)  dengan memberikan sedekah dan kebaikan, menunjukkan rasa gembira dan bahagia, sesungguhnya itu semua berikut menyantuni fakir miskin adalah tanda kecintaan kepada Rasulullah saw dan penghormatan kepada beliau, begitu juga merupakan bentuk syukur kepada Allah atas diutusnya Rasulullah saw kepada seluruh alam semesta".

Ibnu Hajar al-Asqolani dalam Kitab Fatawa Kubro menjelaskan: "Asal  melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan  Bid’ah yang baik (bid’ah hasanah).
Saya telah melihat landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw datang ke Madina, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada haru Asyura, maka Beliau saw bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab: "Hari Puasa itu adalah  hari dimana Allah menenggelamkan Firaun,  menyelamatkan Musa as, maka kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua. Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu.
Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah s.a.w. di muka bumi ini. Maka sebaiknya merayakan Maulid Nabi saw dengan melakukan syukur berupa membaca Qur’an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rauslullah yang bisa  menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal sholih.

Al-Hafidz al-Iraqi dalam kitab Syarh Mawahib Ladunniyah mengatakan : "Melakukan perayaan, memberi makan orang disunnahkan tiap waktu, apalagi kalau itu disertai dengan rasa gembira dan senang dengan kahadiran Rasulullah saw pada hari dan bulan itu, tidaklah sesuatu yang bid’ah selalu makruh dan dilarang, banyak sekali bid’ah yang disunnahkan dan bahkan diwajibkan".

Syeh Azhar Husnain Muhammad Makhluf mengatakan: "Menghidupkan malam Maulid Nabi saw dan malam-malam bulan Rabiul Awal ini adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, memperbanyak syukur dengan nikmat-nikmat yang diturunkan termasuk nikmat dilahirkannya Rasulullah saw di alam dunia ini.  Memperingatinya sebaiknya dengan cara yang santun dan khusu’ dan menjauhi hal-hal yang dilarang agama seperti  amalan-amalan bid’ah dan kemungkaran.  Dan termasuk cara bersyukur adalah menyantuni orang-orang susah, menjalin silaturrahmi. Cara itu meskipun tidak dilakukan pada zaman Rasulullah saw dan tidak juga pada masa salaf terdahulu namun baik untuk dilakukan termasuk sunnah hasanah".

Seorang ulama Turkmenistan Mubasshir al-Thirazi mengatakan: "Mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw saat ini bisa jadi merupakan kewajiban yang harus kita laksanakan, untuk melawan perayaan-perayaan kotor yang sekarang ini sangat banyak kita temukan di masyarakat"

Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi
rahimahullah : Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832 dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300, dan telah diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau saw tujuh tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali. Maka jelaslah bahwa akikah Beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada Allah swt yang telah membangkitkan Nabi Muhammad  saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan membawa Syariah untuk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman-teman dan saudara-saudara, menjamu dengan makanan-makanan dan yang serupa itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan.  Bahkan Imam Assuyuthiy mengarang sebuah buku khusus mengenai perayaan mauled dengan nama : "Husnulmaqshad fii ‘amal ilmaulid".

Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) : Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan kelahiran Nabi saw.

Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :  Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa keadaanmu?, ia menjawab : "di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)" (shahih Bukhari hadits no.4813).
Apabila Abu Lahab Kafir yg Alqur’an turun mengatakannya di  neraka mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana dg muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw ?, maka demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh-sungguh ia akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

Pendapat Imam Al Hafidh Syamsuddin bin Nashiruddin Addimasyqiy dalam kitabnya Mauridusshaadiy fii maulidil Haadiy : Serupa dengan ucapan Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljuzri, yaitu menukil hadits Abu Lahab.

Pendapat Imam Al Hafidh Assakhawiy dalam kitab Sirah Al Halabiyah berkata "tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ke tiga, tapi dilaksanakan setelahnya, dan tetap  melaksanakannya umat islam di seluruh pelosok dunia dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan pembacaan maulid, dan berlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar".

Imam Al hafidh Ibn Abidin rahimahullah dalam syarahnya maulid ibn hajar berkata : "ketahuilah salah satu bid’ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran nabi saw"

Imam Al Hafidh Ibnul Jauzi rahimahullah dengan karangan maulidnya yang terkenal "al aruus" juga beliau berkata tentang pembacaan maulid, "Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya serta merayakannya".

Imam Al Hafidh Al Qasthalaniy rahimahullah dalam kitabnya Al Mawahibulladunniyyah juz 1 hal 148 cetakan al-maktab al islami berkata: "Maka Allah akan menurukan rahmat Nya kepada orang yang menjadikan hari kelahiran Nabi saw sebagai hari besar".

Imam Al hafidh Al Muhaddis Abulkhattab Umar bin Ali bin Muhammad yang terkenal dengan Ibn Dihyah alkalbi dengan karangan maulidnya yg bernama "Attanwir fi maulid basyir an nadzir".

Imam Al Hafidh Al Muhaddits Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Aljuzri dengan Maulidnya "urfu at ta’rif bi maulid assyarif"

Imam al Hafidh Ibn Katsir yang mendukung Mawlid dengan karangan Kitab Maulidnya dikenal dengan nama : "Maulid ibn Katsir"

Imam Al Hafidh Al ‘Iraqy mendukung Mawlid Nabi saw dengan kitab maulidnya "Maurid al hana fi maulid assana"

Imam Al Hafidh Nasruddin Addimasyqiy telah mengarang beberapa kitab maulid : Jaami’ al astar fi maulid nabi al mukhtar 3 jilid, Al lafad arra’iq fi maulid khair al khalaiq, Maurud asshadi fi maulid al hadi.

Imam as-Syakhawiy mengarang kebaikan Mawlid dengan Kitab Maulidnya al-Fajr al Ulwi fi Maulid an Nabawi.

Al allamah al faqih Ali zainal Abidin As syamhudi dengan Kitab Maulidnya ‘al-Mawarid al haniah fi maulid khairil bariyyah

Al Imam Hafidz Wajihuddin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy yang terkenal dengan ibn diba’ dengan Kitab Maulidnya ‘ad-Diba’i’.

Imam ibn Hajar al Haitsami dengan kitab maulidnya "Itmam An-Ni’mah alal Alam bi Maulid Sayid Waladu Adam"

Imam Ibrahim Baajuri mengarang hasiah atas maulid ibn hajar dengan nama "Tuhfa al Basyar ala Maulid ibn Hajar"

Al Allamah Ali Al Qari’ dengan Kitab Maulidnya "Maurud Ar-Rowi fi Mauled Nabawi".

Al Allamah al Muhaddits Ja’far bin Hasan Al-Barzanji dengan Kitab maulidnya yang terkenal "Maulid Barzanji".

Al Imam Al Muhaddis Muhammad bin Jakfar al Kattani dengan Kitab Maulid "Al Yaman wal Is’ad bi Maulid Khair al Ibad".

Wa min Allah at Tawfiq.

sumber: http://www.seruan-global.com/kajian-umum/maulid-nabi-saw-menurut-para-sahabat-nabi-saw-a-ulama-salafush-shaleh.html

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *